Kamis, 26 Maret 2015

SEPUCUK SURAT BERHARGA…


“SEPUCUK SURAT BERHARGA…”
Oleh : Muhammad Rizqi Ramadhani
XI IPA 1

                Entah kenapa, pagi ini cuaca bergitu indah, lebih indah dari hari-hari sebelumnya. Cahaya matahari yang dipancarkan oleh TUHAN jagat raya ini begitu lembut, lembut menyentuh dunia, menembus kamar-kamar dirumah sakit, sinar itu membangunkanku dari tidurku, ya, aku juga tidak tau mengapa, tapi saat aku membuka mataku untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku tak sadarkan diri, aku terbaring di ranjang dengan sebuah selimut dan kipas angin yang berputar pelan diatas kepalaku, serta selang infuse yang tertancap ditanganku, aku sendirian,  entah apa yang terjadi padaku sebelumnya. Aku sama sekali tidak ingat.


                Saat aku mencoba bangkit dari baringku, aku melihat gagang pintu kamarku yang berada dikananku bergerak, seseorang masuk, “Fajaaaaarr, kamu sudah sadar nak, Puji syukur kepada Allah yang telah menyadarkanmu kembali nakk, dokteer, dokteerr!!” kata orang itu sontak terdengar memecah kesepian kamar rumah sakit, dia memelukku dengan erat sambil meneteskan air matanya, seperti air keran yang dibuka penuh.

                Dokter dengan wajah menyenangkan itu mulai memeriksa ku dengan teliti, “syukurlah, keadaan anak ibu sudah baikan, dia perlu sedikit penyesuaian, dan perlu di bantu untuk kembali berlatih berjalan, karena sudah hampir 7 bulan anak ibu tidak sadarkan diri” kata dokter dengan wajah menyenangkan itu.
               
                Apa?! 7 bulan?, apakah yang dikatakan dokter itu benar, sudah 7 bulan aku berada dirumah sakit ini?, apakah bergitu buruknya kejadian yang menimpaku sampai-sampai aku koma 7 bulan!?, apa yang terjadi padaku?, aku semakin bingung mendengar kata-kata dokter dengan senyuman yang meneduhkan itu. “iya dokter, terimakasih banyak!” singkat kata wanita dengan wajah menyenangkan itu, “baiklah, kalau ada apa-apa ibu bisa menghubungi saya” sambung dokter dengan wajah menyenangkan itu.

                Aku hanya diam memikirkan apa yang terjadi padaku sebelumnya, sepertinya ingatanku tercecer disuatu tempat, entah dimana itu, aku semakin bingung. “Fajar, kamu merasa lebih baik bukan?, apakah kamu ingin makan?” tanya wanita dengan wajah menyenangkan itu. “iya bu, aku merasa baikan, embb, sementara ini aku hanya ingin minum bu, bisakah ibu mengambilkan aku segelas air?, aku agak haus bu” jawabku kepada wanita dengan wajah menyenangkan itu, wanita cantik itu adalah ibuku, “tentu saja, sebentar ya” jawabnya singkat, “ini dia jar, ingat, baca dulu basmallah sebelum kamu minum ya nak, supaya kamu diberikan berkah oleh Allah” katanya lembut. Setelah memberikan minuman hangat-hangat kuku itu kepadaku, ia langsung melihat keatas mencari arah kiblat dan langsung bersujud kepada TUHAN yang maha kuasa sebagai tanda kesyukurannya sambil mengeluarkan air matanya.
               
                Sambil memegang gelas yang berisi air setengah berisi dan setengah lagi kosong itu aku mulai  bertanya kepada ibuku perihal apa yang sebenarnya terjadi kepadaku, “eee, ibu, sebenarnya kenapa aku berada disini dan koma selama 7 bulan?!, apa yang terjadi bu??” tanyaku penasaran, wanita dengan wajah menyenangkan itu tertunduk kemudian terisak, suasana disini mulai berubah, aku semakin bingung dan mengulang pertanyaanku, “kamu kecelakaan nak”, apa? Aku? Kecelakaan, dimana?, aku semakin penasaran, “kamu kecelakaan 7 bulan yang lalu sehabis bagi raport disekolahmu” lanjutnya, “kamu kemarin naik mobil bersama ayahmu sebelum kecelakaan, memang cuaca sangat buruk hari itu, saat menyeberang untuk mengisi bensin di Pertamina, tiba-tiba ada truk container menabrak kalian dengan kecepatan tinggi kamudian mobil yang kalian tumpangi terlempar 50 meter” tuturnya terisak.

                Aku tercengang mendengar penuturan ibuku, “Astagfirullah, lalu, dimana ayah sekarang bu?!”, raut muka wanita dengan wajah menyenangkan itu seketika berbubah “maaf ibu harus mengatakan ini padamu, karena cepat atau lambat, pasti kamu akan mengetahuinya juga, jadi, tidak ada gunanya juga ibu menutupinya, kamu harus sabar ya Fajar, ayahmu sudah dipanggil Allah kembali kepada-Nya” ia menangis, aku pun menangis, suasana kebahagiaan akan kesadaranku pun berubah menjadi kesedihan, langit pun ikut menangisi kepergian ayahku, semoga Allah mengampuni segala dosanya, dan menerima semua amalnya, dan memberikan tempat yang terbaik untuknya di akhirat, Aamiinn.

                “bagaimana persis kejadiannya bu, sehingga aku bisa selamat, dan kembali sehat seperti sekarang?” ucapku, “sesaat sebelum kecelakaan terjadi, ayahmu meninggal sambil memelukmu dengan erat, meskipun mobil yang kalian kendarai terlempar jauh, kamu tidak lepas dari pelukannya, semoga Allah meridhai ayahmu dan menempatkannya di Surga, Aamiin.” Tuturnya dengan penuh harap, “kamu harus banyak-banyak bersyukur kepada Allah, karena Dia menyelamatkanmu dari maut, memberikan kamu kesempatan hidup didunia lagi, banyak-banyaklah bersyukur kepada Allah, karena semua jiwa ada ditangan-Nya” tersenyum dengan nasihat yang dia berikan padaku, “Innalillahi, ayah meninggal?, syukurlah Allah melindungiku melalui pelukan Ayah” perasaanku campur aduk, disatu sisi senang karena aku selamat dari maut, disatu sisi aku sedih karena kehilangan ayah yang teramat aku sayangi.

                Disela-sela pembicaraan kami tentang kakuatan TUHAN yang agung itu, tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu kamar ku dengan senyum lembut memenuhi wajahnya masuk dan memberikan aku makanan untuk disantap siang ini, “ini, silahkan dimakan dulu ya dek makanannya biar cepat sembuh dan bisa beraktifitas lagi seperti biasa, oh iya, ini obatnya diminum sesudah makan ya dek” tutur perawat berbaju putih itu, “terimakasih” jawabku sambil membalas melemparkan senyum kecilku padanya, “nih Fajar, kamu makan dulu makanannya, jangan lupa baca Basmallah ya nak” sapa ibu dengan lembut, “iya bu, bismillahirrohmanirrohim…” aku mengambil sendok yang terbungkus sebuah tisu putih dan membuka plastik makanan, wah, alhamdulillah lauk makanan yang dibawakan perawat tadi adalah menu faforitku, sudah 7 bulan aku tidak memakannya karena selama tidak sadarkan diri dan hanya diberi makan infuse, akupun memulai makanku, “alhamdulillah, Puji Syukur Kehadirat Allah yang telah mengenyangkan perutku, semoga makanan ini membawa berkah untukku. Aamiinn” aku meletakkan sendok dipiring bermotif bunga yang telah kosong itu dan menyapu mulutku dengan selembar tisu putih pembungkus sendok tadi, pertanda aku telah selesai makan , “Alhamdulillah, kamu lahap makannya nak, terimakasih ya Allah, Engkau telah memberi kebahagiaan yang sangat besar kepada hambamu, Alhamdulillah ya Allah” kata ibu sambil menengadahkan tangannya kelangit, “nah, sekarang, kamu minum obatnya ya jar, jangan lupa baca doa dulu, semoga diberi kesembuhan oleh Allah, obat ini cuma perantara, ingat itu, jangan bilang karena obat kamu sembuh ya, ini obatnya” lanjutnya sambil menyerahkan obat pil hijau putih itu kepadaku “AllahummaLaSyifa’aIllaSyifaukaIsyfiYaAllah, Aamiinn” gerakan mulutku berdo’a kepada Sang Pencipta Alam Raya, aku memasukan obat pil itu dengan 2 3 teguk air, “aahh, Alhamdulillah” ucapku seusai meminum obat.
               
                Aku memperhatikan sekelilingku, mencari jam dinding, kalau perawat yang tadi masuk memberikan makanan mengatakan untuk makan siang, pasti  sudah waktunya dzuhur, akhirnya mataku melihat jam dinding berbentuk persegi diatas pintu sebelah kananku, jam itu menunjukan pukul 1 siang, “astagfirullah, sudah jam 1 siang, aku belum sholat dzuhur, ibu, aku mau shalat dzuhur dulu ya!”, “iya, ibu juga belum sholat, karena hujan lebat ibu tidak mendengar suara adzan, yaudah, kamu tayamum ya, sholatnya sambil duduk aja, Allah mengijinkan, jika tidak mampu sholat berdiri, maka duduk, tidak tidak mampu duduk berbaring, jika tidak mampu berbaring, jika tidak bisa berbaring sholat dengan isyarat mata, jika tidak bisa juga sholat dengan isyarat mata maka sholatlah dengan hati, seperti yang disabdakan Rasulullah Muhammad SAW, oh iya, kamu tayammum aja” jawabnya dengan lembut.

                Aku menyentuh dan menyapu dinding untuk mulai bertayammum, maklum, aku masih belum bisa berjalan karena sudah 7 bulan aku tidak menggerakkan tubuhku, karena koma akibat kecelakaan mobil yang merenggut nyawa ayahku, mungkin kalian bisa membayangkan, seorang anak usia 16 tahun terbaring lemah tak berdaya diatas kasur dengan sebuah selimut selama 7 bulan!, selesai ber-tayammum aku mengangkat takbir tanda memulai shalatku, aku terharu, karena sudah sekian lama aku tidak sholat, aku sungguh terharu bisa kembali bertemu dengan TUHAN setelah sekian lama melalui shalat, setelah selesai shalat aku berdoa kepada TUHAN “Ya Allah, Yang mana Jiwaku ada ditangan-Nya, yang Pemberi kehidupan, yang membolak-balikkan hati manusia, terimakasih Engkau telah memberikan hamba kesempatan untuk melihat dunia yang indah, yang Engkau ciptakan dengan sempurna, Ya Allah, ampunilah dosa hamba, dosa orang tua hamba, sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyangi aku diwaktu kecil, Aamiinn” ucapku dalam hati.
                Ibu menatapku, aku pun menatap ibu, senyum ibu yang lembut penuh kehangatan menghilangkan dinginnya cuara hari ini, “Fajar, kamu sudah shalat nak, giliran ibu sholat ya, tunggu sebentar” ucap ibu sambil tangannya yang keriput menyentuh kepalaku dengan hangat, “iya bu” jawabku singkat.

                Hujan pun berhenti, bersamaan dengan selesainya shalat ibu, aku menatap keluar jendela kamarku untuk melihat langit, benar saja, hitamnya langit berganti dengan pelangi yang indah, mataharipun juga ikut muncul menandakan kehidupan baruku bersama ibu akan dimulai, setelah badai muncul pelangi yang berwarna-warni, sungguh indah bukan!?, mereka seperti menyampaikan pesan TUHAN yang Maha Indah tentang kehidupan ini.

                Ibu melipat mukenanya yang putih bersih itu dan ikut melihat keluar jendela kamar rumah sakit, “Fajar, kamu liat kan pelangi itu? Sungguh indah, setelah badai pasti akan muncul pelangi, itu artinya hidup ini penuh dengan cobaan dari TUHAN yang kita anggap seperti badai itu, jika kita berhasil melalui cobaan itu, kita pasti akan melihat kaindahan dibalik cobaan itu, seperti pelangi yang sangat indah disana, semua orang pasti akan diuji oleh Allah dengan cobaannya masing-masing, yang sesuai dengan kemampuannya, Allah bilang, Dia tidak akan memberikan cobaan kepada seorang hamba diluar kemampuannya, jadi kamu jangan terlalu sedih akan kematian ayahmu ya, ini merupakan cobaan bagi kita, jangan berlarut-larut dalam kesedihan” katanya sambil memelukku dengan erat, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, seketika kesedihanku akan kematian ayah sirna seketika. Ibu mengambil kursi roda dan mengajakku jalan-jalan ketaman rumah sakit didepan kamarku.

                Dengan mengucapkan Basmallah, ibu mendorongku perlahan ketaman rumah sakit, kami menghirup segarnya udara, aroma khas setelah hujan lebat dibawah langit biru yang berpelangi, sudah lama aku tidak mencium aroma seperti ini semenjak kecelakaan. Kami berhenti dibawah salah satu pohon besar yang lebat dengan bunga mawar didepannya, ibu menunjukan sepucuk surat kepadaku, “bacalah” katanya, aku mengambil surat itu, gemetar, aku tidak tau apa isinya, aku membuka surat yang kusam itu.

“Untuk anakku, Fajar, semoga selalu dalam lindungan ALLAH, Aamiinn”
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang
Ayah tidak tahu harus bilang apa, jika kamu membaca surat ini, berarti ayah sudah tidak ada lagi untuk melindungi mu dan ibumu, ayah hanya ingin berpesan kepadamu, jikalau nanti kamu sudah dewasa, kamu jangan durhaka kepada Ibumu ya, do’akan ibumu selalu, supaya dia  selalu dilindungi oleh Allah, hormati orang yang lebih tua dari kamu, sayangilah orang-orang yang menyayangi kamu, jadilah orang yang dermawan, jadilah pria yang bertanggung jawab, kamu jangan lupa makan, jangan jadi orang yang sombong, amalkan isi Al-Qur’an,  jangan lupa shalat, dan yang paling penting kamu jangan lupa dengan ALLAH, lakukanlah semua perintahnya, dan jauhilah semua larangannya dengan begitu kamu pasti hidup  bahagia di dunia dan akhirat , ayah berharap, Ayah, Ibu dan Kamu bisa berkumpul bersama disurga-Nya
Aamiinn.
Kami menyayangimu anakku
Salam Hangat
Ayahmu tercinta


                Seusai membacanya, aku langsung memeluk ibu, ibu menangis, “Fajar, jika nanti ibu menyusul ayahmu, kamu harus taat kepada Allah ya, jangan sampai kamu melanggar perintahnya, terutama Shalat mu, jangan bolong-bolong, doa’kan ayahmu ya semoga dia berada ditempat yang diberkahi Allah, dan doakan ibumu juga selalu, supaya ibu selalu sehat dan kuat, agar ibu bisa melihat kamu wisuda nanti, sampai kamu menikah dan punya anak” kata ibu sambil menitikkan air matanya, aku tidak tau harus berkata apa, aku hanya bisa menundukan kepalaku, tanda aku meng iyakan perkataan ibu.

                Keesokan harinya, aku meminta ibu membawaku ke Pemakaman ayah, ibupun mengiyakannya, dengan kursi roda, aku melihat didalam komplek pemakaman yang hijau nan luas itu sebuah nisan yang bertuliskan nama ayahku, saat itu aku tersadar, saat nanti waktuku aku juga akan terbaring didalam tanah yang dingin itu.

                Aku ingin memenuhi janjiku pada ayah dan ibu untuk berbakti kepada TUHAN dan orang tua ku yang ku sayangi dengan sepenuh hatiku, hari ini, aku mendoakan ayahku yang terbaring didalam tanah yang dingin itu dari atas tanah yang penuh dengan cahaya TUHAN, ibu juga melakukan hal yang sama, aku harus menjadi orang yang berguna dimasa depan nanti, jangan merepotkan ibu yang masih bersamaku dan meringankan beban ayahku yang sudah berada dialam yang berbeda dengan kami berdua. Semoga kami bisa kembali bersama disurga-Nya nanti, Aamiinn.


--“TAMAT”--
SEKIAN DAN TERIMAKASIH
(Muhammad Rizqi Ramadhani l XI IPA 1)



Inspirator :
M. Fajar Readi
Nur Hanifah
Auladina Shalilah
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar :

Posting Komentar